Jangan salah gunakan zoom

JANGAN pernah pakai zoom, demikian kata videografer profesional ketika membahas teknik pengambilan gambar untuk pemula.

Larangan tersebut sempat membuat saya bertanya-tanya. Kalau memang tombol zoom harus  dijauhi, mengapa kamera video, termasuk jenis yang paling sederhana sekalipun, dilengkapi dengan fasilitas zoom?

Perlu ditegaskan di sini, yang diharamkan di sini adalah memakai tombol zooming ketika ada sedang mengambil gambar video. Jadi, jangan khawatir fasilitas zoom tetap halal ketika anda sedang mencari-cari komposisi shot yang kita kehendaki. Begitu komposisi bagus ditemukan, lepas tombol zoom dan tekan tombol merah record.

Dari yang saya baca dan dengar, ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh videografer berpengalaman untuk menjauhi lensa zoom ketika mereka sedang merekam video. Dan, saya sependapat dengan mereka.

Pertama, zooming menghasilkan gambar yang tidak alamiah. Indra penglihatan manusia tidak diciptakan dengan fitur zoom in atau pun zoom out [kecuali anda memiliki mata bionik seperti tokoh film fiksi tahun 1980-an the Six Million Dollar Man]. Dengan demikian, klip video yang direkam dengan zooming “menyadarkan” pemirsa bahwa ada kamera dan videografer muncul antara subjek dan mereka.

Menurut banyak videografer veteran, salah satu ciri karya video profesional adalah perhatian audiens tercurah habis ke rangkaian frame video di hadapan mereka, dan mereka seperti lupa akan kehadiran kamera dan operatornya – seolah kamera dan videografer diam-diam menjelma menjadi indera penglihatan mereka.

Kedua, lensa zoom membuat video tidak stabil alias bergoyang-goyang seperti klip yang direkam din tengah guncangan gempa. Klip video seperti tentu tidak enak ditonton.

Ketiga, gambar hasil zooming sering mempersulit pengeditan, sebab keseluruhan gambar harus dipakai secara utuh, mulai dari awal hingga akhir zooming. Jika dipotong di tengah,  penggalan video tersebut hampir bisa dipastikan akan seperti melompat-lompat. Sebaliknya, jika dibiarkan utuh, penggalan video tersebut akan terasa sangat lama dan menjemukan bagi pemirsa.

Jika kamera video yang diharapkan merekam ditil atau berada lebih dekat dengan suatu benda atau bagian figur manusia, atau suatu aksi, jangan zoom in, tapi mendekatlah. Dan, saya jadi teringat akan tip seorang videografer –  your legs are the best zoom. Kaki adalah fasilitas zoom terbaik. Dekatkan kamera ke subjek untuk mendapatkan close-up shot – ditil gambar yang anda kehendaki.

Di meja editing, wide shot yang diambil dengan komposisi yang rapi bisa disambung dengan close up shot. Hasilnya dijamin lebih enak ditonton daripada hasil zoom yang serampangan.

Kembali ke pertanyaan mengapa zooming dilarang? Bahwa setiap camcorder dilengkapi dari pabriknya dengan tombol zoom yang biasa berlabel T dan W tidak berarti fasilitas itu harus digunakan.

Silakan gunakan jika memang mampu memanfaatkan zooming.  Jangan (salah) gunakan zoom, hanya lantaran camcorder anda punya teknologi zoom sampai 12x atau 20x.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Videography. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s