Video, mengapa tidak?

JANGAN salah sangka bahwa video itu semata-mata hasil keahlian teknis videografi. Dalam jurnalistik multimedia, content is king, kata Andy Bull dalam Multimedia Journalism. Isi itu yang terpenting!

video nation

sampul depan video nation

Menurut hemat saya, pernyataan wartawan senior Inggris ini sangat beralasan. Ketika hampir semua ponsel memiliki fasilitas kamera video, semua orang bisa memproduksi klip video. Dan, klip itu bisa jadi memiliki nilai berita tinggi.

Ketika sistem kereta bawah tanah London menjadi sasaran serangan bom Juli 2005, evakuasi penumpang direkam dengan ponsel. Video dengan resolusi rendah karya si penumpang kemudian ditayangkan di televisi, dan tentu juga di internet. Demikian juga video amatir yang merekam detik-detik akhir pemimpin terguling Iraq Saddam Hussein menjelang eksekusi Desember 2006.

Kedua klip video itu memiliki nilai jurnalistik luar tinggi, karena tidak ada jurukamera mengabadikan kedua momen penting tersebut. Kualitas gambar, audio apalagi teknik videografi menjadi tidak relevan lagi. Yang penting, content-nya, Bung!

Dalam jurnalistik multimedia, video bisa  memperkaya suatu produk berita, sepanjang dia bisa menyuguhkan soundbite, atau memperlihatkan peristiwa berita, atau memperkuat dampak emosional suatu berita yang sulit diungkapkan atau ditampilkan dengan tulisan atau foto (saja).

Teknologi kamera video saku sudah berkembang pesat hingga bisa menghasilkan rekaman High Definition dengan harga yang terjangkau banyak orang. Padahal, pada umumnya situs internet berita belum menyuguhkan video dengan resolusi tinggi, lantaran audiens sudah terbiasa dengan kualitas gambar pas-pasan, karena tuntutan kecepatan akses. Artinya, banyak kamera video memadai untuk memproduksi klip bernilai jurnalistik untuk medium internet.

Kamera memang tidak bisa menghasilkan apa-apa tanpa manusia sebagai operator. Mengoperasikan kamera memerlukan skill – ketrampilan. Dan, menurut saya, ketrampilan itu selalu hasil dari proses belajar.

Ketrampilan itu selalu hasil dari proses belajar

Lantas, bagaimana orang sebaiknya belajar ketrampilan video? Cara satu-satunya untuk belajar jurnalisme video adalah dengan melakukannya, kata seorang video journalist.

Saran ini mungkin terdengare ekstrem, tapi tidak berarti keliru total, menurut saya. Siapa pun mustahil bisa mahir merekam video tanpa pernah menggunakan kamera.

Inilah yang mendorong saya kerap membawa kamera video ukuran saku Zi8 buatan Kodak. Sejak dibeli lewat lelang di Ebay di penghujung 2010, kamera itu menjadi alat belajar videografi yang bisa diandalkan di berbagai kesempatan.

Dengan bantuan Zi8, saya merekam demonstrasi anti-pemotongan anggaran di London, Inggris dalam perjalanan pulang dari tempat kerja. Kamera yang sama juga mengabadikan gelombang protes komunitas Arab di London ketika revolusi massa Arab Spring melanda Afrika Utara dan Timur Tengah (2011/12).

Video asal rekam kemudian di-upload di YouTube tanpa di-edit. Di luar dugaan, ada juga yang mengklik. Artinya,  menurut saya, orang tertarik melihat video-video mentah, lantaran  isi  (peristiwa, cerita, orang, masalah) video menyangkut minat dan kepentingan mereka. Unsur teknis menyusul di belakang isi.

Saya kemudian juga membandingkannya dengan video karya orang lain dari video — baik sesama amatir maupun profesional.  Tidak hanya itu saya juga mulai lebih antusias mendengar komentar orang lain– kerabat, teman atau komunitas di YouTube. Salah satu hasilnya, saya mendapat info tentang angled mini mic untuk memperbaiki kualitas suara. Dan, proses belajar videografi pun berjalan hingga kini.

(versi awal ditulis 14 November 2010)

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Gagasan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s